Sajak Putih Kepada Merah

Sekali waktu Putih ingin bersua dengan Merah
Ingin meraih Merah.
Tapi, Merah terbang jauh ke sana
Melewati perpaduan warna pagi dari sisi ini:
biru,
kuning,
hijau,
cokelat,
dan putih.
Gerbang dan jendela hijau membingkai kuat—menahan.
Pintu tiada terbuka, udara pun tiadalah berizin masuk
Merah mendapat sebaliknya: ia dalam rasa dinginnya di sana...
Putih tahu, tapi tak pernah pedulikan kenyataan,
sekalipun Putih mampu bernoda oleh Merah-nya...

Selayaknya biru tua dan biru muda yang menyatu dalam langit dan awan,
Selayaknya hijau dan cokelat yang saling memenuhi bentuk pepohonan,
Maka inginlah jua Putih bersama dengan Merah berdampingan
Berdampingan seperti sedia kala,
sebelum Kuning menyatukan diri dengan Merah,
hingga membuat Merah semakin tampak,

dan Putih menjadi redup...

Ruang Kelas Sekolah, 19 November 2011



Tulisan ini pernah berkesempatan untuk dibukukan dalam "Kata-Kata Kita Vol.2" bersama dengan karya guru sekolah, adik-adik kelas, serta teman-teman alumni sekolah.

PENJELASAN IDE: 
Tulisan ini gw buat pas lagi masa galau..hehe.. Idenya datang ketika di hari itu gw menatap ke luar jendela kelas dan sadar gw ga bisa liat 'mantan' karena dia lagi ikut kaderisasi 3 hari 2 malam. Gw mengibaratkan diri gw sebagai "putih" dan dia adalah "merah". Gw mengibaratkan demikian, karena dia sangat "terlihat" di sekolah dengan kepintaran, keaktifan, dan kemampuan sosialisasinya yang baik. Eksis lah istilahnya. Jadi, gw ibaratin dia warna merah, karena merah terang dan "terlihat". Kalau diri gw, gw ibaratin dengan warna putih, karena gw kebalikannya dia. Intinya, gw biasa aja deh di sekolah. Ga "terlihat" seperti si merah.

Dalam tulisan ini, gw utarakan keinginan gw ketemu sama dia, meskipun hubungan kami saat itu sangat buruk. Selain itu, gw ngerasa tiap hari juga kita makin jauh, terutama saat dia lagi ikut kaderisasi ini. Gw pun ga bisa berbuat apa-apa, karena gw hanya bisa tertahan di sekolah. Ditahan oleh gerbang dan jendela hijau (dulu ini warna teralis dan gerbang sekolah). Sedangkan si doi kan lagi kaderisasi di daerah puncak atau mana gitu. Daerahnya dingin, jadi gw tulis "ia dalam rasa dinginnya di sana".

Keberadaan jarak yang terasa ini memang ga bisa gw apa-apain, tapi saat itu rasanya gw mau mendobrak kenyataan. Gw mau tetap bisa sama dia, meskipun gw tahu dia pasti ga mau. Ceritanya dulu tuh gw masih mau hubungan gw dan dia kembali seperti sedia kala. Mau hubungan kami baik lagi seperti sebelum "kuning" (pacar "merah" yang baru) menyatu dengan merah dan hubungan mereka jadi super membahagiakan. Kenapa "kuning"? Karena, warna kuning juga "terlihat" seperti merah. Saat itu, pacar si "merah" itu eksis juga menurut gw. Gw ceritanya merasa redup gitu deh, merasa ga sebanding dengan si "kuning", meskipun saat itu gw tetap menaruh harapan bisa kembali sama "merah".

Begitu :)


Comments

Popular posts from this blog

Suara Kata

Jembatan Semu

Ragu