Posts

Showing posts from June, 2015

Satu Hati Setiap Hari

Tanpa perannya,  Aku tak akan ada Ia. Ia  yang mengajakku bermain setiap akhir minggu Di masa lalu Tanpa ia, Aku tak akan banyak belajar hal baru Tentang jenis buah yang menggantung di pohon pinggir jalan Tentang sebuah rumah di sudut kota Tentang peralatan olahraga Tentang novel remaja Begitu cepat waktu berlalu Membawaku ke sini dan ia ke situ Hadirkan bentangan jarak yang utuh Jarak yang mampu direngkuh Tapi tak pernah disentuh Setelah melalui berbagai rasa Kasih. Benci. Penyesalan. Benci. Kasih. Ke mana lagi kah lanjutan rasa ini? Untuk kamu, andalan masa kecilku Benteng hidup saat itu Selimut malamku dulu Bagaimanakah rasamu? Kau tak pernah beritahu... Atau aku yang terlalu menutup telinga untuk mendengarmu? Kini Boleh kah aku  Yang pernah bermulut tajam padamu Yang pernah tak hargai dirimu Yang tak pernah mampu tunjukkan kasih sayang padamu... Ingin kirimkan satu hati setiap hari Lewat niat diri Lewat doa dalam hati... B...

Filosofi Kelapa

Aku direngkuh, aku dibawa Kulitku dikupas dengan benda tajam itu Harusnya sakit, tapi ini masih permulaan Aku masih punya pelindung: serabutku—penghangatku. Lalu ia mulai lagi. Serabutku dicabuti sesukanya Harusnya sakit, tapi ini kuanggap fase kecil Aku masih punya pelindung: batokku—perisaiku. Rupanya ia belum cukup puas. Ia hancurkan lagi batokku hingga aku retak dan kemudian pecah Aku menahan isiku sebisaku: daging putih bersih pun ditemani air yang jernih Ketika aku mulai merasakan sakit, aku menatapnya. Ku minta ia berhenti dengan perkataan yang tak mampu ku lisankan Ia tak sadar, tapi aku merasa... Saat ia sadar, aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi Sudah tidak bisa merasa, tepatnya. Masaku sudah habis dan aku akan memulai dari awal lagi Awal yang baru. Saat itu tiba, kuharap ia tidak datang... Tidak datang hanya untuk mencabik daging putihku lagi... BSD, 20 Agustus 2011 Tulisan ini pernah berkesempat...

Sajak Putih Kepada Merah

Sekali waktu Putih ingin bersua dengan Merah Ingin meraih Merah. Tapi, Merah terbang jauh ke sana Melewati perpaduan warna pagi dari sisi ini: biru, kuning, hijau, cokelat, dan putih. Gerbang dan jendela hijau membingkai kuat—menahan. Pintu tiada terbuka, udara pun tiadalah berizin masuk Merah mendapat sebaliknya: ia dalam rasa dinginnya di sana... Putih tahu, tapi tak pernah pedulikan kenyataan, sekalipun Putih mampu bernoda oleh Merah-nya... Selayaknya biru tua dan biru muda yang menyatu dalam langit dan awan, Selayaknya hijau dan cokelat yang saling memenuhi bentuk pepohonan, Maka inginlah jua Putih bersama dengan Merah berdampingan Berdampingan seperti sedia kala, sebelum Kuning menyatukan diri dengan Merah, hingga membuat Merah semakin tampak, dan Putih menjadi redup... Ruang Kelas Sekolah, 19 November 2011 Tulisan ini pernah berkesempatan untuk dibukukan dalam " Kata-Kata Kita Vol.2"  bersama dengan karya guru se...

Pembaptisan

Seringkali aku Minta ini Minta itu Minta semua yang sempurna Tanpa ku sadari Bahwa aku telah memiliki yang sempurna Sejak aliran air suci Melewati puncak kepalaku perlahan Sejak air suci itu Ditandai di keningku vertikal lalu horizontal                                                            BSD, 28 Juni 2015

Kunci Perak Raja Alo

Image
                        Benda ini mulus tanpa segores lecet pun ada pada dirinya. Kuraba dan kurasakan benar-benar tekstur benda yang sebenarnya tak boleh kusentuh ini. Kuamati juga setiap detail sisinya hingga aku mendapati sebuah lambang. Lambang ini berbentuk lingkaran dengan tulisan zabalo di dalamnya.             “Lexa! Letakkan kunci perak itu!” Aku menoleh ke sumber suara dan kudapati sosok ayah dan ibu telah berdiri di dekatku. Sejurus kemudian, tangan ayah segera bergerak untuk merebut kunci perak itu dari tanganku. Tapi, aku telah mempelajari kebiasaan ayah ini sejak kecil. Ketika ia melihatku memegang kunci perak ini, ia pasti segera ingin merebutnya. Maka, kali ini aku segera menggenggam erat kunci perak ini dan dengan cekatan menyembunyikannya di kantung belakang celanaku. “Lexa... Ayo segera berikan kuncinya ke ayah...”kali ini ibu yang bersu...

Bukan Dongeng, Tapi Cerita Kita

Image
Bohong , jika ku katakan tak pernahlah aku harapkan sosok seorang pangeran. Kau tahu kenapa? Karena dalam benakku, sang pangeran akan hadirkan kisah nan indah.   Tapi , itu hanyalah dongeng yang tiada bisa dipaksa menjadi nyata. Dan kita — aku dan kamu — ti dak perlu menjadi pemeran di dalamnya. Karena kita adalah kita: merajut cinta lewat letupan pijar -pijar hati, merajut memori lewat bisikkan langit kepada pelangi , dan merajut perban luka lewat untaian cinta suci . Ketika coba memahami lebih dalam makna setiap luka, kudapati fakta bahwa cinta kita-lah yang sembuhkan luka. Lihatlah… Ini bukan dongeng, tapi cerita kita. .. Milik kita. -Tulisan ini berkesempatan ikut terbit bersama karya penulis lain di buku "Ungkapan Cinta Ala Penyair (UCAP) 1" terbitan Meta Kata- PENJELASAN IDE: Ide untuk nulis ini datang dari pemikiran pribadi pas lagi gencar-gencarnya baca novel, baca komik, (atau iseng nonton FTV) yg berbau2 romantis. Siapa coba yg...

KENAPA PAKAI NAMA DEER-CIELL?

Alamat blog ini adalah penggabungan dari dua nama, yaitu nama gw dan almarhumah teman gw. "Deer" adalah nama pena yang gw usulkan buat dia, karena dia lincah dan ceria seperti rusa kecil. Kebetulan, namanya juga Debby Erli, jadi bisa disingkat "deer". Kalau "Ciell" (dibaca: Sil) adalah nama yang dikasih ke gw pas SMP. Dulu masih zaman-zamannya bikin nama beken gitu..haha.. Sampe sekarang, beberapa temen masih panggil gw dengan "Ciell", jadi gw memutuskan untuk menggabungkan kenangan dengan kenangan. Menggabungkan "Deer" dengan "Ciell" agar tetap lekat dalam ingatan. *** Sebenarnya, blog ini adalah blog ke-2 gw.. Blog yang pertama gw buat itu pas SMA dengan "paksaan" dari Debby. Lewat blog atau FB, kami sering tuker-tukeran hasil karya biar bisa saling kasih kritik dan saran. Setelah dia meninggal, gw makin ga produktif nulis di blog. Entah kenapa, ga lama setelahnya pun gw lupa password blog gw, jadi gw ga bisa...