Kunci Perak Raja Alo
Benda ini mulus tanpa segores lecet
pun ada pada dirinya. Kuraba dan kurasakan benar-benar tekstur benda yang sebenarnya
tak boleh kusentuh ini. Kuamati juga setiap detail sisinya hingga aku mendapati
sebuah lambang. Lambang ini berbentuk lingkaran dengan tulisan zabalo di dalamnya.
“Lexa! Letakkan kunci perak itu!”
Aku
menoleh ke sumber suara dan kudapati sosok ayah dan ibu telah berdiri di dekatku.
Sejurus kemudian, tangan ayah segera bergerak untuk merebut kunci perak itu dari
tanganku. Tapi, aku telah mempelajari kebiasaan ayah ini sejak kecil. Ketika ia
melihatku memegang kunci perak ini, ia pasti segera ingin merebutnya. Maka,
kali ini aku segera menggenggam erat kunci perak ini dan dengan cekatan menyembunyikannya
di kantung belakang celanaku.
“Lexa...
Ayo segera berikan kuncinya ke ayah...”kali ini ibu yang bersuara.
“Tapi
kenapaaaa??? Kunci ini hanya kunci perak kecil! Kenapa aku nggak boleh memegangnya? Seolah-olah kunci
perak kecil ini bisa membahayakanku aja!”ucapku lantang.
“Ya,
kunci itu bisa membahayakanmu...”ucap ayah dengan nada suara rendah. “Ayah
harap kamu segera mengembalikan kunci perak itu ke tempatnya semula, karena di
situlah ia harus berada,”lanjut ayah lagi sambil melangkah pergi dari
hadapanku.
Banyak
pertanyaan berkecamuk di pikiranku tentang kunci perak ini. Namun, tepukan
ringan tangan ibu di pundakku seakan melarangku untuk berpikir lebih jauh lagi
dan memaksaku untuk menuruti saja apa kata mereka.
Aku
melangkah malas-malasan ke ruang baca setelah ibu menghampiri ayah yang
sekarang sedang menonton televisi. Ruang baca ini tertutup, sehingga aku bisa
menenangkan diri sementara dari keanehan sikap orang tuaku terhadap kunci perak
ini.
Ratusan
buku koleksi ayah, ibu, dan tentunya juga sedikit koleksi buku milikku memenuhi
ruang baca ini. Selama ini aku hanya membaca buku-buku novel remaja milikku di
bagian rak bertuliskan nama “Alexandra”. Tapi, entah mengapa kali ini kakiku
menuntunku bergerak ke rak-rak lain milik ayah dan ibu. Aku menatap ke
buku-buku tebal di rak paling atas. Sebuah buku menumbuhkan rasa ingin tahuku
karena warnanya yang cukup menusuk mata.
Aku berusaha keras mengambil buku itu yang ternyata adalah sebuah album foto lama
milik ayah dan ibu. Ukiran nama ayah dan ibuku yang mulai terlihat ketika aku
menarik buku itu membuatku semakin penasaran tentang masa lalu mereka. Sambil
berjinjit karena tingginya rak buku tersebut, aku menarik keluar album foto di
rak tertinggi itu dengan tidak sabar. Akibatnya, sebuah buku lain ikut terjatuh
juga dari rak tersebut dan menimpa kakiku.
“Awww! Sakit banget! Buku apa sih itu?”tanyaku
dalam hati.
Buku
yang baru saja jatuh itu tiba-tiba begitu memikatku karena berbagai ukiran di
sampul buku tersebut. Warna buku itu hitam dengan sepotong lambang kecil
berwarna perak. Ya, perak. Lambangnya berbentuk bulat dengan satu tulisan kecil
di dalamnya: zabalo.
Aku
merogoh kantung belakang celanaku dan menemukan kunci perak yang kucari.
Ternyata, aku memang lupa mengembalikannya ke tempat semula seperti yang
diminta ayah dan ibu. Tanpa menunggu lama lagi, aku segera menempelkan kunci
perak ini ke buku berwarna hitam itu untuk memastikan lambang yang aku lihat
memang benar-benar sama. Dan...dugaanku memang tidak salah: lambang berbentuk
lingkaran yang ada di kunci perak ini memang sama dengan yang ada di buku hitam
itu.
Jantungku
berdegup begitu kencang sesaat setelah menempelkan kunci perak ini ke buku
hitam yang kuletakkan di lantai itu. Lambang yang sama itu hanyalah sebagian
kecil penyebab kegugupanku ini. Tapi, yang lebih membuatku gugup adalah objek yang baru
saja aku lihat: lambang yang aku katakan berbentuk lingkaran itu baru saja
bergerak seolah-olah adalah ular yang baru saja bangun dari tidur panjangnya.
Kini, lambangnya bukan lagi bulat, melainkan berbentuk oval dengan lingkaran
hitam di bagian tengahnya. Bentuk oval tersebut benar-benar seperti sebuah bola mata yang sedang menatap ke arahku. Sedangkan lingkaran hitam
di tengah lambang berbentuk oval tersebut ternyata adalah sebuah lubang kunci
yang ukurannya sangat pas dengan kunci perak yang sedang aku pegang saat ini.
Aku
tidak tahu apa yang aku pikirkan dan keberanian apa yang sedang merasuk ke
dalam tubuhku, sehingga aku dengan yakinnya memasukkan kunci perak ini ke dalam
lubang kunci tersebut dan memutar kuncinya.
BLAM! Semuanya gelap seketika dan
aku tidak ingat apa yang terjadi lagi.
***
“Hei, apa yang kamu lakukan di
situ?! Pengawal Raja Alo sedang melakukan pencarian terhadap barang raja yang
hilang. Jika kamu masih di tengah jalan seperti itu dengan tampang ketakutan,
maka kamu akan dicurigai sebagai pencuri dan akan segera dibunuhnya! Cepat,
sini masuk ke rumahku!”
Dengan kaki lemas dan pikiran yang
tidak mengerti apapun, aku pun mengikuti saja perintah si pemilik suara itu.
“Siapa namamu?”tanya si pemilik
suara.
“Lexa. Namamu siapa?”tanyaku
dengan suara yang serak.
“Aku Laras. Ngomong-ngomong, aku
belum pernah melihatmu di sekitar sini. Sedang apa kamu di Negeri Tak Berujung
ini?”tanyanya sambil meyuguhkan segelas air putih padaku.
“Terima kasih,”kataku setelah
meneguk air itu sampai habis.
“Aku tidak tahu bagaimana aku bisa
di sini. Yang aku ingat, aku memasukkan kunci ke dalam lubang kunci yang
terdapat di sebuah buku milik ayahku. Tadi kamu bilang ini adalah Negeri Tak
Berujung kan? Apa maksudnya?”tanyaku bingung.
“Maksudmu kunci perak dengan lambang
berbentuk lingkaran dan tulisan zabalo
di dalamnya?! Wah! Kamu benar-benar harus cepat pergi dari negeri ini atau kamu
dan aku akan mati!”serunya.
“I... Iya... Itu kunci yang aku maksud.
Bagaimana kamu bisa tahu?”tanyaku terbata-bata.
“Oke,
akan aku beritahukan padamu tentang negeri ini. Pada awalnya, negeri kami ini
sama dengan negeri-negeri lainnya. Kami punya penguasa yang baik dan tanah kami
pun subur. Hanya saja, ada dua keunikan di negeri ini, yaitu para penduduknya yang
tidak bisa menjadi tua dan kenyataan bahwa orang-orang yang telah masuk ke
negeri ini tidak akan bisa keluar lagi. Oleh karena itu, negeri ini dinamakan
Negeri Tak Berujung. Suatu hari, muncul seorang wanita cantik bernama Sandra.
Ia datang begitu tiba-tiba dengan kereta perak dan Raja Alo melihatnya. Raja
Alo begitu jatuh cinta pada wanita itu dan berniat menikahinya. Tapi, wanita itu
kemudian dibawa pergi oleh seorang pria bernama Alex yang berhasil masuk ke
negeri ini dengan kereta perak yang terakhir. Alex mencari jalan untuk bisa
keluar dari negeri ini bersama dengan Sandra yang ternyata adalah istrinya.
Setelah tahu bahwa kunci perak adalah satu-satunya jalan, Alex pun mencuri
kunci itu dari Raja Alo dan membawa Sandra pergi dari sini. Akibatnya, Raja Alo
menjadi sangat murka dan menyuruh pengawalnya untuk mencari kunci perak itu
lagi. Kau tahu kenapa? Karena, itu adalah satu-satunya jalan untuk bisa
keluar-masuk negeri ini. Cepat Lexa, cepat selamatkan dirimu sebelum kunci
perak itu diambil Raja Alo! Yang perlu kau lakukan sekarang adalah lari
sekencang-kencangnya ke arah barat! Jika kau melihat matahari mulai terbenam,
cepat keluarkan kunci perak itu dan perlihatkan ke arah matahari. Matahari itu
akan berubah menjadi oval yang berbentuk seperti mata. Kemudian, kau hanya
perlu memasukkan kunci perak itu ke dalam lubang kuncinya yang terdapat di
tengah-tengah lambang oval tersebut. CEPAT! Segera ke arah barat sebelum hari
gelap dan sebelum para pengawal Raja Alo menangkapmu!”ungkap Laras.
Kepanikan
jelas tergambar di wajah Laras. Dan aku... Aku hanya bisa memeluknya sebagai
ucapan terima kasih tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Aku berlari
sekuat tenaga menuju arah barat. Setelah sampai, aku lakukan apa yang Laras
katakan tadi, dan... BLAM! Semuanya gelap seketika dan aku tidak ingat apa yang
terjadi lagi.
Ini adalah salah satu persembahan gw untuk Debby yang
kini telah berada di surga. Tulisan ini pernah diikutsertakan dalam lomba cerpen yang diadakan Meta Kata dan Puji Tuhan meraih juara 2. Oleh karena itu, cerpen ini pun berkesempatan untuk ikut diterbitkan bersama cerpen lain di buku "Lost in The Never Never Land".

Comments
Post a Comment