Jembatan Semu

Bunga-bunga mekar di sebuah taman
Mekar bersamaan hingga sekelompok lebah mampir dan tinggal
Lebah-lebah membangun sarang
Lalu mengumpulkan nektar tuk langsungkan kehidupan

Warna bunga di taman begitu menawan
Memikat setiap lebah pekerja tuk hampiri
Dan kumpulkan manis yang bisa bunga beri
Namun seekor lebah pekerja temukan bunga yang berbeda
Tumbuh indah merekah sempurna
Hanya saja di seberang sungai letaknya

Si lebah ingin hampiri bunga di seberang sungai
Namun ia ingat perintah sang ratu
Bahwa nektar hanya boleh dikumpulkan dari taman mereka
Bahwa manis hanya boleh dirasakan dari bunga sejenis saja
Sebab bunga lainnya mungkin beracun
Sebab bunga lainnya mungkin hanya perangkap

Lebah pekerja sedih dan bertanya
Mengapa perlu ada sungai sebagai jarak

Bunga seberang sungai pun bertanya
Mengapa jembatan yang ada di dekatnya tak bisa menjembatani

Semu.


BSD, 8 Maret 2016


PENJELASAN IDE:

[panjang nih karena pake curcol. Kalo cuma mau liat penjelasan puisi langsung lompat ke paragraf 4.]

Hai! Ide puisi kali ini disponsori oleh pengalaman temen-temen dan pengalaman pribadi terkait suatu relasi. Seperti yang kita semua tahu, Indonesia terdiri dari banyak agama dan kepercayaan. Jadi, ga aneh kan kalo seseorang beragama A punya temen agama B, C, D, E, F. Nah, tapi kalo udah menyangkut perasaan, peraturan tentang agama terasa lebih diperketat. Ini subjektif sih, tapi berdasarkan pengalaman gw dan temen-temen sekitar ya begitu adanya. Bahkan, orangtua pun sering kasih wejangan "Kamu carinya yang seagama ya." Ya, nyari sih yang seagama, tapi kalo nemunya yang ga seagama, gimana dong? Kalo klopnya sama yang ga seagama, gimana dong? Ga jarang yang beda agama pun harus putus karena perbedaan agama itu.

Awalnya sih gw SANGAT SETUJU nyari yang seagama, tapi seiring berjalannya waktu gw sempet "berontak" juga karena deketnya sama yang ga seagama terus. Institusi pendidikan yang berbasis agama itu ga jamin nemunya yang seagama juga, guys! HAHA #malahcurhat
Pas lagi "berontak" itu gw mikir kenapa sih harus beda-bedain agama, padahal orang pada tahu kalau Tuhan satu. Cara menyembahNya aja yang beda. Kalo orang tahu Tuhan satu tapi masih beda-bedain agama, berarti dia cuma ngomong doang dong. Makanya, gw sempet kepikiran it's okay punya pasangan beda agama asal jalanin masing-masing (ga maksa pasangannya ikut agama dia).

Nah, tapi makin tua gw liat pengalaman saudara dan temen-temen bahwa punya relasi beda agama itu memang ga gampang. Contohnya, ketika lo rindu untuk pergi ke tempat agama lo sama pasangan, dianya ga bisa dibawa karena beda agama. Terus kalo udah nikah dan lo lagi ada masalah, seharusnya lo bisa cerita ke pasangan dan kalian bisa doa bareng biar lega. Dengan doa bareng itu, relasi yang makin deket ga cuma relasi ke Tuhan aja, tapi juga relasi sama pasangan. Coba bayangin kalo agamanya beda. Jadi susah doa barengnya kan? Terus, kalo udah punya anak dan anaknya masih kecil, dia mau dimasukkin ke agama mama atau papanya? Itu beberapa contoh yang gw temuin ketika umur makin tua ini..hahaha! Makanya, sekarang gw jadi balik SETUJU kalo harus cari yang seagama. Ya, demi memenuhi kerinduan untuk pergi ibadah dan doa bareng nantinya. 
SETUJU AJA, bukan SANGAT SETUJU kayak dulu..hahaha... Karena masih suka galau-galau dikit terkait agama, jadi gw bikin puisi ini deh...

Di puisi ini, bunga-bunga di sebuah taman itu gw ibaratin cewek-cewek yang satu agama sama si lebah (cowok). Sang ratu lebah (orangtua) cenderung nyuruh nyari bunga di satu taman (yang seagama) aja. Tapi, ga nutup kemungkinan kalo si lebah bakal nemu bunga lain di taman yang beda (agamanya beda). Kata "seberang sungai" yang gw pake itu nunjukkin kalo beda agama dianggap ada jaraknya dan sulit dilampaui.
Pada kalimat ketika si lebah ingat perintah ratu bahwa bunga di taman lain mungkin beracun atau hanya perangkap, itu maksudnya orangtua kasih saran bahwa cewek yang ga seagama sebaiknya jangan dijadiin pasangan. Sebab, awalnya mungkin indah dan manis, tapi ke depannya bisa bermasalah. Karena si lebah udah terlanjut terpikat sama bunga di seberang sungai, tentu si lebah akan sedih dong. Dia jadi mempertanyakan "kenapa sih perlu ada sungai sebagai jarak?" Dengan kata lain, kenapa sih agama harus dijadiin penghalang?
Bunga di seberang sungai yang udah terpikat sama si lebah pekerja juga bertanya "Mengapa jembatan yang ada di dekatnya tak bisa menjembatani?" Maksudnya, selama ini banyak orang tahu kalau agama ga seharusnya dibeda-bedakan atau jadi penghalang dalam berelasi. Pengetahuan itu harusnya bisa jadi "jembatan" alias sesuatu yang menyatukan dua agama yang beda itu. Sayangnya, pada prakteknya hal itu ga terjadi, So, "jembatan" yang ada terasa semu, bukan?
That's why judulnya "Jembatan Semu".

Comments

Popular posts from this blog

Suara Kata

Ragu