Posts

Showing posts from 2015

Bertukar Matahari

Pertanyaan yang ku lontarkan dapat dijawabnya dengan terbuka Oh, betapa nikmat memahami lantunan kosakata Ekspresi yang ku sendiri tak sadari dapat dipahaminya dengan jeli Wah, betapa peka kau dengan emosi ini Hei... Terima kasih telah berbagi Terima kasih telah membuka diri Di pertemuan kemarin hari Tinggal kita tunggu lagi Kapan waktu menyediakan diri Untuk kita kembali bertukar matahari BSD, 3 Desember 2015 Kali ini gw nulis puisi terkait temen baru gw. Gw kenal dia kira-kira sebulan lalu dan di awal Desember kemarin kami janjian ketemu. Di pertemuan itu, gw nemuin banyak hal di diri dia yg bisa gw kagumin n jadiin contoh buat hidup gw. Intinya, apa yang dia omongin itu bener2 ngejawab banyak pertanyaan gw selama ini deh.. Kalo terkait penjelasan isi puisi, gw rasa kalimat di puisi ini udah eksplisit ya, jadi ga perlu penjelasan banyak2..hehe.. Paling yg perlu dijelasin istilah "bertukar matahari" aja kali ya... Matahari kan terang dan bersinar gitu. Gw...

Tanya

Sedih yang tak terselami Sakit yang tak teramati Pergi dengan rendah hati Membawa banyak cinta Membawa banyak tawa Yang takkan bisa kembali diminta Meski tanpa kata Tanya ini masih melekat resah Bergelantung dan berkelana Bertanya mengapa cepat ada tiada BSD, 1 Desember 2015 Hai! Udah lama ga jelasin tentang puisi yang gw tulis. Karya kali ini terinspirasi dari satu post-an temen gw di instagram dan FB. Dia post foto sama temennya dan tulis dia beruntung masih ada temen untuk berbagi. Dia tulis juga semoga temennya itu ga pergi lagi seperti temennya dulu. Ya, temennya yang pergi itu juga adalah temen gw. Namanya Debby. Dari post-an itu gw jadi inget bentar lagi Debby ulang tahun. Terus jadi inget lagi deh pas dia masih di sini. Gw pun mempertanyakan lagi kenapa dia cepet pergi. Semua itu gw tulis melalui kalimat puisi di atas. Bait pertama itu maksudnya tentang kesedihan gw yg bahkan gw udah ga tau lagi sedihnya kayak apa. Udah terlalu diteken bgt sampe rasan...

Kertas Putih Memberi Kabar Tentang Oma Ira

Tiba-tiba selintas kenangan tentangmu muncul di benakku Aku pun jadi ingat kamu dan bertanya-tanya di manakah dirimu? Sebab aku sudah lama tak lihat diri dan senyummu di tempat duduk depan kampusku Aku coba mencari jawaban atas pertanyaanku Oh, mungkin karena aku sudah lama tak lalui jalan depan kampus Pikirku saat itu. Meskipun rasa ingin tahuku tentang keberadaanmu terus mengganggu pikiranku Suatu hari, kulewati lagi jalan yang biasa kulalui Berharap kau ada di situ seperti biasa Sekedar duduk,  menawarkan daganganmu, membeli minuman, atau bercengkerama akrab dengan siapapun di dekatmu Oh, Oma Ira... Betapa aku ingikan hal itu yang aku lihat Namun fakta berkata lain Yang kutemukan adalah secarik kertas putih yang menempel sederhana di tempat kamu biasa duduk Kertas putih itu bercerita hal yang tak kuduga Tentang duka Aku terdiam menatap penuh luka Oh, andai aku ingat tentangmu lebih cepat Andai aku tahu kabarmu sakit lebih dulu dari ...

Inginku

Tuhanku dalam setiap rasa inginku akan sesuatu bantu aku tahan itu sebab aku mulai jauh dari dekapMu melenggang tak tentu dalam duniaku Tuhanku dalam setiap keterjerumusanku bantu aku menjauh dari hal duniawi yang aku mau sebab aku jadi tak bersyukur padaMu mengingini benda ini itu di hadapanku BSD, 3 Agustus 2015

Alasannya Satu

Kita sering lakukan sesuatu karena alasan tak tentu Padahal sebaiknya alasannya satu: Tuhan Allahmu. Segala perbuatan biarlah terarah pada Sang Pencipta Sebab alasannya hanya satu: Dialah Allah yang setia. Ibarat lidah api, Aku bukanlah lidah api atau percikannya Aku hanyalah panas yang ditimbulkannya Sebab aku ada bukan karena kuasaku Aku ada karena api sudah lebih dulu ada Aku memberikan kasih sebab aku sudah lebih dulu dikasihi olehNya...

Insomnia

Halo malam, Tidak kah kau lihat pagiku muncul bersamamu? Meski tanpa embun, Tanpa cahaya, Pagiku tetap muncul seiring datangnya kamu Halo pagi, Masih boleh kah aku berselimut mimpi? Sebab kantuk ini sungguh tak terelakkan Meski dengan percik embun Dan bermandikan cahaya, Malamku baru saja tiba Halo lagi, malam dan pagi Mengapa kalian tidak bicara berdua? Mungkin saja setelah itu kalian bisa berbagi Berbagi tugas untuk kuasai diri ini Yang mulai kesulitan ikuti aturan waktu bumi BSD, 12 Juli 2015

Dear Ryan

Diri kita berasal dari bagian yang sama Sebagian besar hidup kita dihabiskan di tempat yang sama Tapi kita tidak sama Ketidaksamaan itu yang lengkapi kita Tumbuh bersamamu merupakan kisah tersendiri Kisah yang tak bisa dibagi kepada siapapun yang menanti Lewat perkelahian dulu Lewat canda tawa lugu Oh... Aku sangat banyak belajar sesuatu Belajar menyayangimu dalam dimensi waktu Semakin lama kian besar Meski amarah yang kadang terlontar Percayalah... Aku ingin sertai kamu dalam setiap langkahmu Tak ingin ku lihatmu terjatuh dalam pilu Namun aku tentu tak selalu bisa di dekatmu Tak mungkin bisa lindungi kamu  Karena itu, Pelajarilah banyak hal dari hidupmu Belajarlah dari kesalahan masa lalu dan hiduplah sesuai dirimu Wahai kamu, adik kecilku dulu Sebentar lagi kamu akan lewati umur belasan itu Oh... Betapa sang waktu pintar kuasai dirimu Hingga aku terdiam saat sadari kamu makin dewasa Semoga semakin dewasa kita bisa semaki...

Rahasia

Rahasia. Aku makan rahasia setiap hari Mulai saat aku dibentuk Aku dibesarkan Hingga aku pun tumbuh penuh rahasia Penuh rahasia dalam diamku dalam tawaku dalam candaku dalam tangisku Rahasia. Kalau aku katakan muak padanya Akankah aku tetap seperti ini Akankah aku tetap hidup Sebab aku tumbuh dalam rahasia Aku makan rahasia Mungkin orang rumahku tak tahu bahwa dunia ini sudah penuh rahasia rahasia tentang rasa tentang masa depan tentang hidup Makanya mereka suguhi aku rahasia Rahasia yg sedikit terungkap tapi tak terkuak Rahasia. Lama-lama rahasia akan berkerak Rahasia tak selesaikan apa-apa Rahasia akan semakin bungkam relasi kita Oh rahasia. Betapa muak aku makan rahasia Lama-lama aku akan berkerak dan kaku Lama-lama aku penuh emosi negatif karenamu, Rahasia. BSD, 8 Juli 2015

Satu Hati Setiap Hari

Tanpa perannya,  Aku tak akan ada Ia. Ia  yang mengajakku bermain setiap akhir minggu Di masa lalu Tanpa ia, Aku tak akan banyak belajar hal baru Tentang jenis buah yang menggantung di pohon pinggir jalan Tentang sebuah rumah di sudut kota Tentang peralatan olahraga Tentang novel remaja Begitu cepat waktu berlalu Membawaku ke sini dan ia ke situ Hadirkan bentangan jarak yang utuh Jarak yang mampu direngkuh Tapi tak pernah disentuh Setelah melalui berbagai rasa Kasih. Benci. Penyesalan. Benci. Kasih. Ke mana lagi kah lanjutan rasa ini? Untuk kamu, andalan masa kecilku Benteng hidup saat itu Selimut malamku dulu Bagaimanakah rasamu? Kau tak pernah beritahu... Atau aku yang terlalu menutup telinga untuk mendengarmu? Kini Boleh kah aku  Yang pernah bermulut tajam padamu Yang pernah tak hargai dirimu Yang tak pernah mampu tunjukkan kasih sayang padamu... Ingin kirimkan satu hati setiap hari Lewat niat diri Lewat doa dalam hati... B...

Filosofi Kelapa

Aku direngkuh, aku dibawa Kulitku dikupas dengan benda tajam itu Harusnya sakit, tapi ini masih permulaan Aku masih punya pelindung: serabutku—penghangatku. Lalu ia mulai lagi. Serabutku dicabuti sesukanya Harusnya sakit, tapi ini kuanggap fase kecil Aku masih punya pelindung: batokku—perisaiku. Rupanya ia belum cukup puas. Ia hancurkan lagi batokku hingga aku retak dan kemudian pecah Aku menahan isiku sebisaku: daging putih bersih pun ditemani air yang jernih Ketika aku mulai merasakan sakit, aku menatapnya. Ku minta ia berhenti dengan perkataan yang tak mampu ku lisankan Ia tak sadar, tapi aku merasa... Saat ia sadar, aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi Sudah tidak bisa merasa, tepatnya. Masaku sudah habis dan aku akan memulai dari awal lagi Awal yang baru. Saat itu tiba, kuharap ia tidak datang... Tidak datang hanya untuk mencabik daging putihku lagi... BSD, 20 Agustus 2011 Tulisan ini pernah berkesempat...

Sajak Putih Kepada Merah

Sekali waktu Putih ingin bersua dengan Merah Ingin meraih Merah. Tapi, Merah terbang jauh ke sana Melewati perpaduan warna pagi dari sisi ini: biru, kuning, hijau, cokelat, dan putih. Gerbang dan jendela hijau membingkai kuat—menahan. Pintu tiada terbuka, udara pun tiadalah berizin masuk Merah mendapat sebaliknya: ia dalam rasa dinginnya di sana... Putih tahu, tapi tak pernah pedulikan kenyataan, sekalipun Putih mampu bernoda oleh Merah-nya... Selayaknya biru tua dan biru muda yang menyatu dalam langit dan awan, Selayaknya hijau dan cokelat yang saling memenuhi bentuk pepohonan, Maka inginlah jua Putih bersama dengan Merah berdampingan Berdampingan seperti sedia kala, sebelum Kuning menyatukan diri dengan Merah, hingga membuat Merah semakin tampak, dan Putih menjadi redup... Ruang Kelas Sekolah, 19 November 2011 Tulisan ini pernah berkesempatan untuk dibukukan dalam " Kata-Kata Kita Vol.2"  bersama dengan karya guru se...

Pembaptisan

Seringkali aku Minta ini Minta itu Minta semua yang sempurna Tanpa ku sadari Bahwa aku telah memiliki yang sempurna Sejak aliran air suci Melewati puncak kepalaku perlahan Sejak air suci itu Ditandai di keningku vertikal lalu horizontal                                                            BSD, 28 Juni 2015

Kunci Perak Raja Alo

Image
                        Benda ini mulus tanpa segores lecet pun ada pada dirinya. Kuraba dan kurasakan benar-benar tekstur benda yang sebenarnya tak boleh kusentuh ini. Kuamati juga setiap detail sisinya hingga aku mendapati sebuah lambang. Lambang ini berbentuk lingkaran dengan tulisan zabalo di dalamnya.             “Lexa! Letakkan kunci perak itu!” Aku menoleh ke sumber suara dan kudapati sosok ayah dan ibu telah berdiri di dekatku. Sejurus kemudian, tangan ayah segera bergerak untuk merebut kunci perak itu dari tanganku. Tapi, aku telah mempelajari kebiasaan ayah ini sejak kecil. Ketika ia melihatku memegang kunci perak ini, ia pasti segera ingin merebutnya. Maka, kali ini aku segera menggenggam erat kunci perak ini dan dengan cekatan menyembunyikannya di kantung belakang celanaku. “Lexa... Ayo segera berikan kuncinya ke ayah...”kali ini ibu yang bersu...

Bukan Dongeng, Tapi Cerita Kita

Image
Bohong , jika ku katakan tak pernahlah aku harapkan sosok seorang pangeran. Kau tahu kenapa? Karena dalam benakku, sang pangeran akan hadirkan kisah nan indah.   Tapi , itu hanyalah dongeng yang tiada bisa dipaksa menjadi nyata. Dan kita — aku dan kamu — ti dak perlu menjadi pemeran di dalamnya. Karena kita adalah kita: merajut cinta lewat letupan pijar -pijar hati, merajut memori lewat bisikkan langit kepada pelangi , dan merajut perban luka lewat untaian cinta suci . Ketika coba memahami lebih dalam makna setiap luka, kudapati fakta bahwa cinta kita-lah yang sembuhkan luka. Lihatlah… Ini bukan dongeng, tapi cerita kita. .. Milik kita. -Tulisan ini berkesempatan ikut terbit bersama karya penulis lain di buku "Ungkapan Cinta Ala Penyair (UCAP) 1" terbitan Meta Kata- PENJELASAN IDE: Ide untuk nulis ini datang dari pemikiran pribadi pas lagi gencar-gencarnya baca novel, baca komik, (atau iseng nonton FTV) yg berbau2 romantis. Siapa coba yg...

KENAPA PAKAI NAMA DEER-CIELL?

Alamat blog ini adalah penggabungan dari dua nama, yaitu nama gw dan almarhumah teman gw. "Deer" adalah nama pena yang gw usulkan buat dia, karena dia lincah dan ceria seperti rusa kecil. Kebetulan, namanya juga Debby Erli, jadi bisa disingkat "deer". Kalau "Ciell" (dibaca: Sil) adalah nama yang dikasih ke gw pas SMP. Dulu masih zaman-zamannya bikin nama beken gitu..haha.. Sampe sekarang, beberapa temen masih panggil gw dengan "Ciell", jadi gw memutuskan untuk menggabungkan kenangan dengan kenangan. Menggabungkan "Deer" dengan "Ciell" agar tetap lekat dalam ingatan. *** Sebenarnya, blog ini adalah blog ke-2 gw.. Blog yang pertama gw buat itu pas SMA dengan "paksaan" dari Debby. Lewat blog atau FB, kami sering tuker-tukeran hasil karya biar bisa saling kasih kritik dan saran. Setelah dia meninggal, gw makin ga produktif nulis di blog. Entah kenapa, ga lama setelahnya pun gw lupa password blog gw, jadi gw ga bisa...