Filosofi Kelapa

Aku direngkuh, aku dibawa
Kulitku dikupas dengan benda tajam itu
Harusnya sakit, tapi ini masih permulaan
Aku masih punya pelindung: serabutku—penghangatku.
Lalu ia mulai lagi.
Serabutku dicabuti sesukanya
Harusnya sakit, tapi ini kuanggap fase kecil
Aku masih punya pelindung: batokku—perisaiku.
Rupanya ia belum cukup puas.
Ia hancurkan lagi batokku hingga aku retak dan kemudian pecah

Aku menahan isiku sebisaku: daging putih bersih pun ditemani air yang jernih

Ketika aku mulai merasakan sakit, aku menatapnya.
Ku minta ia berhenti dengan perkataan yang tak mampu ku lisankan
Ia tak sadar, tapi aku merasa...
Saat ia sadar, aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi
Sudah tidak bisa merasa, tepatnya.
Masaku sudah habis dan aku akan memulai dari awal lagi
Awal yang baru.
Saat itu tiba, kuharap ia tidak datang...
Tidak datang hanya untuk mencabik daging putihku lagi...


BSD, 20 Agustus 2011




Tulisan ini pernah berkesempatan untuk dibukukan dalam "Kata-Kata Kita Vol.2" bersama dengan karya guru sekolah, adik-adik kelas, serta teman-teman alumni sekolah.

PENJELASAN IDE: 
2011 adalah tahun galau gw. Jadi, inti puisi yg gw tulis di tahun ini akan galau dan terkait si 'mantan'..hehe...
Gw agak lupa sih gimana ide tulisan ini muncul. Intinya, gw mengibaratkan diri gw adalah sebuah kelapa. Buah kelapa kan kuat dan banyak lapisannya tuh. Nah, gw ngerasa diri gw tuh kayak gitu, karena gw punya banyak "lapisan" pertahanan diri supaya gw tegar dan kuat menghadapi apapun. Saat putus, gw ngerasa lapisan pertahanan diri gw yang pertama udah rusak tuh.. Terus, ditambah-tambah lagi dengan kenyataan dia suruh gw lupain dia, dia deket sama cewek baru yang ternyata temen gw, dan berbagai kenyataan pahit lainnya yang datang bertubi-tubi sesaat setelah putus. Saat itu gw ngerasa ga siap, tapi coba bertahan sebisa mungkin supaya gw ga down. Ya, gimana ya... Mungkin kalau dipikir-pikir sekarang rasanya lebay. Tapi, dulu rasanya bener-bener hancur dan sakit hati gitu..hehe..

Di kalimat "ketika aku mulai merasakan sakit, aku menatapnya" ini maksudnya tersirat. Artinya, gw saat itu berusaha nunjukkin ke dia kalau gw sakit hati pake banget (maklum, masih sekolah jadi belum dewasa). Gw berharap dengan gw nunjukkin itu, dia bisa sadar dan agak jaga sikap gitu deh, misalnya di sekolah jangan lengket-lengket amat gitu sama pacarnya. Kalau gw ga sengaja liat kan sakit hati :(

"Ia tak sadar, tapi aku merasa..."
Sayangnya, dia ga nyadar dan gw ngerasa sakit hati jadinya, terutama kalau di sekolah. Makanya, gw semakin coba untuk bertahan dan rela. Saat coba bangun pertahanan diri gw lagi itu, gw bertekad saat gw udah kuat lagi, dia ga boleh datang buat mencabik "daging putih" (perasaan) gw lagi...

Comments

Popular posts from this blog

Suara Kata

Jembatan Semu

Ragu